Peunajoh, dalam bahasa Aceh memang sangat lazim dikenal dari gampong-gampong sampai ke kota-kota.

Jika merujuk pada kamus Bahasa Aceh karangan Abu Bakar, peunajoh dapat diartikan secara sederhana makanan atau juga minuman yang beranekaragam.

Selamat menikmati peunajoh di blog ini, semoga berkenan untuk mengetahui informasi peunajoh Aceh yang layak untuk Anda cicipi atau mencoba membuatnya.

 

Anonymous asked
apa resep dodol meusekat

Secara umum juga belum mendapat resep khusus untuk meusekat, tapi pada umumnya bahan dodol

Bahan-bahan:
1.8 kg tepung pulut
300 gm tepung beras
3.6 kg gula melaka
12 biji kelapa parut
15 helai daun pandan

Cara penyediaan: 
Bancuh tepung beras dan tepung pulut dengan santan. Setelah itu tapis ke dalam kuali besi.
Masak gula melaka dengan sedikit air dan daun pandan. Bila telah larut masukkan ke dalam adunan tepung tadi. Dengan menggunakan api yang perlahan jerangkan adunan ini sambil dikacau dan apabila setengah masak, masukkan pati santan dan terus kacau sehingga masak.

Untuk membuatnya, bahan-bahan tersebut hendaklah dicampurkan bersama di dalam kuali yang besar atau dikenali sebagai kawah dan dimasak dengan api yang sederhana besar. Dodol yang dimasak tidak boleh dibiarkan kerana jika dibiarkan, dodol akan hangus atau hangit di bahagian bawahnya/kerak.

Oleh itu, dodol hendaklah sentiasa dikacau bergilir-gilir untuk mendapatkan hasil yang baik. Dodol yang dimasak memakan masa yang agak lama iaitu lebih kurang 4 jam kerana sekiranya kurang dari 4 jam, dodol yang dimasak tidak sedap dimakan. Setelah 2 jam dodol tadi dimasak, dodol akan bertukar kepada warna coklat yang pekat sedikit. Dodol tersebut akan mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang banyak.

Seterusnya, dodol hendaklah dikacau supaya gelembung dodol tersebut tidak terkeluar dari kawah sehinggalah dodol tersebut masak dan diangkat. Akhir sekali, dodol tersebut hendaklah disejukkan di dalam periuk yang besar. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan rasa yang sedap, dodol mestilah berwarna coklat tua, berkilat dan pekat.

 
Manisan pala merupakan salah satu jenis makanan ringan yang tergolong dalam kelompok manisan buah-buahan. Usaha pembuatan manisan pala tidak memerlukan teknologi yang sulit dan pembuatannya cukup mudah, oleh karena itu usaha ini mudah dilakukan oleh para pengusaha baru.
Pembuatan manisan pala umumnya dilakukan oleh pengusaha kecil di daerah penghasil pala. Kabupaten Aceh Selatan adalah kabupaten penghasil komoditi pala terbesar di Aceh bahkan di Pulau Sumatera. Manisan buah pala ini termasuk industri rumah tangga yang banyak dijumpai di Kabupaten Aceh Selatan. Selain diolah menjadi manisan dan sirup, pala dapat dibuat juga menjadi minyak pala yang berkhasiat tinggi untuk mengobati luka. Bahkan kini kue dan kembang gula pun dapat dibuat dari buah pala.
Manisan pala selain menjadi makanan ringan yang disajikan pada saat perayaan hari-hari besar lebaran dan tahun baru bagi masyarakat setempat juga dapat dijadikan buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah ini.

Manisan pala merupakan salah satu jenis makanan ringan yang tergolong dalam kelompok manisan buah-buahan. Usaha pembuatan manisan pala tidak memerlukan teknologi yang sulit dan pembuatannya cukup mudah, oleh karena itu usaha ini mudah dilakukan oleh para pengusaha baru.

Pembuatan manisan pala umumnya dilakukan oleh pengusaha kecil di daerah penghasil pala. Kabupaten Aceh Selatan adalah kabupaten penghasil komoditi pala terbesar di Aceh bahkan di Pulau Sumatera. Manisan buah pala ini termasuk industri rumah tangga yang banyak dijumpai di Kabupaten Aceh Selatan. Selain diolah menjadi manisan dan sirup, pala dapat dibuat juga menjadi minyak pala yang berkhasiat tinggi untuk mengobati luka. Bahkan kini kue dan kembang gula pun dapat dibuat dari buah pala.

Manisan pala selain menjadi makanan ringan yang disajikan pada saat perayaan hari-hari besar lebaran dan tahun baru bagi masyarakat setempat juga dapat dijadikan buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah ini.

iloveaceh:

Sanger adalah sejenis minuman yang hanya ada di Aceh. Sanger atau juga sering di sebut kopi sanger ini secara umum mirip dengan capucino, tapi menurut saya jauh lebih nikmat kopi sanger ini. Selain itu jika kita melihat sekilas maka sanger ini akan sangatlah tampak seperti kopi susu biasa, tetapi jika kita menilik dari rasanya, kopi sanger ini memiliki rasa yang sangat khas dan berbeda dari rasa kopi lainnya.Memang dari dahulu Aceh ini terkenal dengan khas kopi saring/tarik-nya. Bagi para pecinta kopi sejati pasti akan segera dapat merasakan bedanya, apabila sudah merasakan kopi Aceh. Warung yang paling terkenal dalam menyajikan jenis minuman ini adalah warung solong di kawasan Ulee Kareng dan Chek Yuke di kawasan Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Selain itu, hampir di setiap ruas jalan di Banda Aceh pasti akan banyak kita temui warung-warung kopi, tempat nongkrong dari segala usia.

iloveaceh:

Sanger adalah sejenis minuman yang hanya ada di Aceh. Sanger atau juga sering di sebut kopi sanger ini secara umum mirip dengan capucino, tapi menurut saya jauh lebih nikmat kopi sanger ini. Selain itu jika kita melihat sekilas maka sanger ini akan sangatlah tampak seperti kopi susu biasa, tetapi jika kita menilik dari rasanya, kopi sanger ini memiliki rasa yang sangat khas dan berbeda dari rasa kopi lainnya.
Memang dari dahulu Aceh ini terkenal dengan khas kopi saring/tarik-nya. Bagi para pecinta kopi sejati pasti akan segera dapat merasakan bedanya, apabila sudah merasakan kopi Aceh. Warung yang paling terkenal dalam menyajikan jenis minuman ini adalah warung solong di kawasan Ulee Kareng dan Chek Yuke di kawasan Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Selain itu, hampir di setiap ruas jalan di Banda Aceh pasti akan banyak kita temui warung-warung kopi, tempat nongkrong dari segala usia.

iloveaceh:

Meuria (nan Latin: Metroxylon sagu) nakeuh simacam peunula nyang bakjih na meusagèë. Bak meuria le udép di aluë-aluë ië jeureunèh, binèh kruëng ngon tanoh-tanoh paya nyang iëjih han masén. Boh meuria jeut tapajôh, sagèëjih pih jeut tapajôh, ônjih jeut geu’adèë keu peugèt bubông. 

iloveaceh:

Meuria (nan Latin: Metroxylon sagu) nakeuh simacam peunula nyang bakjih na meusagèë. Bak meuria le udép di aluë-aluë ië jeureunèh, binèh kruëng ngon tanoh-tanoh paya nyang iëjih han masén. Boh meuria jeut tapajôh, sagèëjih pih jeut tapajôh, ônjih jeut geu’adèë keu peugèt bubông. 

Pisang adalah tanaman hortikultura yang cukup penting untuk kesehatan. Pisang yang sudah matang dapat diolah berbagai macam makanan salah satunya adalah disale alias pisang sale, pisang sale sudah lama dikenal sebagai makanan tradisional daerah, salah satunya pisang sale khas Aceh banyak dikawasan Kabupaten Aceh Timur yang merupakan sentra pisang sale untuk daerah Aceh.Pisang sale khas Aceh, proses pembuatannya adalah pisang yang sudah matang di kupas kulitnya lalu dijemur dipanas matahari , setelah itu dilakukan penyaleaan/pengasapan sehingga pisang sale lebih tahan lama, seterusnya dioleskan/dilumuri gula tebu (bukan gula pasir),pisang sale mempunyai aroma dan rasa yang khas. Warnanya kecoklat-coklatan, agak berkilat sedikit membuat kita ingin mencicipinya.Pisang sale merupakan makanan ringan masyarakat Aceh sejak zaman indatu dulu, yang sudah menjadi buah tangan dari Aceh. Pisang sale bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu.

Pisang adalah tanaman hortikultura yang cukup penting untuk kesehatan. Pisang yang sudah matang dapat diolah berbagai macam makanan salah satunya adalah disale alias pisang sale, pisang sale sudah lama dikenal sebagai makanan tradisional daerah, salah satunya pisang sale khas Aceh banyak dikawasan Kabupaten Aceh Timur yang merupakan sentra pisang sale untuk daerah Aceh.

Pisang sale khas Aceh, proses pembuatannya adalah pisang yang sudah matang di kupas kulitnya lalu dijemur dipanas matahari , setelah itu dilakukan penyaleaan/pengasapan sehingga pisang sale lebih tahan lama, seterusnya dioleskan/dilumuri gula tebu (bukan gula pasir),pisang sale mempunyai aroma dan rasa yang khas. Warnanya kecoklat-coklatan, agak berkilat sedikit membuat kita ingin mencicipinya.

Pisang sale merupakan makanan ringan masyarakat Aceh sejak zaman indatu dulu, yang sudah menjadi buah tangan dari Aceh. Pisang sale bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu.

Kembang loyang ini terbuat dari tepung roti yang di campur dengan gula dan telur serta pati santan. Adonan ini diaduk hingga rata lalu cetakan kembang loyang dicelupkan ke dalam adonan kemudian digoreng ke dalam penggorengan.
Kue ini sering kita jumpai disaat ada acara hajatan, tidak ketinggalan juga dipelosok-pelosok desa di Aceh kue sangat setia untuk menemani pada hari-hari besar agama, seperti waktu lebaran, serta cocok dinikmati pada waktu-waktu santai bersama keluarga.

Kembang loyang ini terbuat dari tepung roti yang di campur dengan gula dan telur serta pati santan. Adonan ini diaduk hingga rata lalu cetakan kembang loyang dicelupkan ke dalam adonan kemudian digoreng ke dalam penggorengan.

Kue ini sering kita jumpai disaat ada acara hajatan, tidak ketinggalan juga dipelosok-pelosok desa di Aceh kue sangat setia untuk menemani pada hari-hari besar agama, seperti waktu lebaran, serta cocok dinikmati pada waktu-waktu santai bersama keluarga.

Lepat, makanan ini di buat dari tepung ketan yang diisi dengan gula merah hingga kalis, kemudian di bungkus dengan menggunakan daun pisang dan di bagian tengahnya di beri kelapa parut yang telah di gongseng dengan gula yang di namakan inti lalu di kukus hingga matang. Lepat khusus di sajikan pada hari-hari tertentu pada masyarakat Gayo terutama menjelang puasa (megang) dan lebaran, makanan ini tahan lama jika di asapi dapat bertahan sampai 2 minggu.

Lepat, makanan ini di buat dari tepung ketan yang diisi dengan gula merah hingga kalis, kemudian di bungkus dengan menggunakan daun pisang dan di bagian tengahnya di beri kelapa parut yang telah di gongseng dengan gula yang di namakan inti lalu di kukus hingga matang. Lepat khusus di sajikan pada hari-hari tertentu pada masyarakat Gayo terutama menjelang puasa (megang) dan lebaran, makanan ini tahan lama jika di asapi dapat bertahan sampai 2 minggu.

Rujak Aceh Samalanga, disebut demikian karena rujak Aceh tentunya banyak ditemukan di Aceh sampai dipelosok-pelosok desa. Samalanga merupakan salah satu kecataman yang terdapat di kabupaten Bireuen.
Keunikan rujak Aceh pada umumnya memiliki keistimewaannya yang terletak pada cita rasanya yang asam, manis dan pedas.   Bahan-bahan yang digunakan memang relatif sama seperti pembuatan rujak pada umumnya, yang terdiri dari buah mangga, pepaya, kedondong, bengkuang, jambu air, nenas, dan timun, namun bumbu-bumbu yang digunakan, memiliki ciri khas tersendiri seperti garam, cabe rawet, asam jawa, gula aren (merah) yang cair, kacang tanah dan pisang monyet (pisang batu) atau rumbia (salak Aceh).
Yang menarik dari rujak Aceh Samalanga ini, di atas tempat ulekan yang besar terbuat dari batu itu bisa menampung untuk 50 porsi rujak, ada juga ulekan yang digunakan biasanya yang terbuat dari kayu jati.   Cara penyajiannya rujak biasanya memang ddilakukan dengan dua cara, yaitu pertama ditaruh di dalam piring dan yang kedua ditaruh di atas daun pisang. Pembeli yang makan di warung, biasanya disediakan di dalam piring, sedangkan yang akan dibawa pulang, biasanya dibungkus dengan daun pisang yang tentu menjadi ciri khas tersendiri.

Rujak Aceh Samalanga, disebut demikian karena rujak Aceh tentunya banyak ditemukan di Aceh sampai dipelosok-pelosok desa. Samalanga merupakan salah satu kecataman yang terdapat di kabupaten Bireuen.

Keunikan rujak Aceh pada umumnya memiliki keistimewaannya yang terletak pada cita rasanya yang asam, manis dan pedas. Bahan-bahan yang digunakan memang relatif sama seperti pembuatan rujak pada umumnya, yang terdiri dari buah mangga, pepaya, kedondong, bengkuang, jambu air, nenas, dan timun, namun bumbu-bumbu yang digunakan, memiliki ciri khas tersendiri seperti garam, cabe rawet, asam jawa, gula aren (merah) yang cair, kacang tanah dan pisang monyet (pisang batu) atau rumbia (salak Aceh).

Yang menarik dari rujak Aceh Samalanga ini, di atas tempat ulekan yang besar terbuat dari batu itu bisa menampung untuk 50 porsi rujak, ada juga ulekan yang digunakan biasanya yang terbuat dari kayu jati. Cara penyajiannya rujak biasanya memang ddilakukan dengan dua cara, yaitu pertama ditaruh di dalam piring dan yang kedua ditaruh di atas daun pisang. Pembeli yang makan di warung, biasanya disediakan di dalam piring, sedangkan yang akan dibawa pulang, biasanya dibungkus dengan daun pisang yang tentu menjadi ciri khas tersendiri.

Keumamah atau sering disebut dengan Ikan kayu merupakan makanan tradisional Aceh yang paling banyak diminati oleh masyarakat Aceh. Selain memiliki rasa yang lezat dan unik, ikan ini terbuat dari ikan tuna yang telah direbus, kemudian dikeringkan dan diiris-iris kecil. 
Biasa dimasak dengan menggunakan santan kelapa, kentang, cabai hijau dan rempah lainnya. Ikan kayu ini tahan lama untuk dibawa perjalanan jauh, sehingga dapat dijadikan bekal dalam perjalanan. Selama perang Aceh melawan Belanda di hutan, jenis makanan ini sangat terkenal karena sangat mudah dibawa dan dimasak. Nama lainnya adalah katshiobushi.

Keumamah atau sering disebut dengan Ikan kayu merupakan makanan tradisional Aceh yang paling banyak diminati oleh masyarakat Aceh. Selain memiliki rasa yang lezat dan unik, ikan ini terbuat dari ikan tuna yang telah direbus, kemudian dikeringkan dan diiris-iris kecil.

Biasa dimasak dengan menggunakan santan kelapa, kentang, cabai hijau dan rempah lainnya. Ikan kayu ini tahan lama untuk dibawa perjalanan jauh, sehingga dapat dijadikan bekal dalam perjalanan. Selama perang Aceh melawan Belanda di hutan, jenis makanan ini sangat terkenal karena sangat mudah dibawa dan dimasak. Nama lainnya adalah katshiobushi.

Cara membuat resep masakan kue bingkang pertama-tama kocok telur bebek dengan gula pasir sampai mengembang lalu tuang santan sambil terus diaduk. 
Beri tepung terigu sedikit demi sedikit kemudian masukkan margarine cair dan aduk rata. Tuang adonan kedalam loyang yang telah diolesi dengan margarine. Panggang dalam oven sampai matang dan kue padat.

Cara membuat resep masakan kue bingkang pertama-tama kocok telur bebek dengan gula pasir sampai mengembang lalu tuang santan sambil terus diaduk.

Beri tepung terigu sedikit demi sedikit kemudian masukkan margarine cair dan aduk rata. Tuang adonan kedalam loyang yang telah diolesi dengan margarine. Panggang dalam oven sampai matang dan kue padat.

(Source: sna14aceh.com)

 
Kue Bhoi adalah penganan khas Aceh Besar yang dikenal luas oleh masyarakat Aceh. Bentuk kue ini sangat bervariasi, seperti : bentuk ikan, bintang, bunga, dan lain-lain. Kue Bhoi ini dapat menjadikan salah satu buah tangan ketika akan berkunjung ke sanak saudara atau tetangga yang mengadakan hajatan atau pesta, seperti sunatan dan kelahiran. 
Kue Bhoi ini mempunyai harga yang sangat relatif murah, satu kemasan berkisar dengan harga Rp. 5.000,- ,10.000,- bahkan ada yang ratusan ribu.
Kue Bhoi juga dijadikan sebagai salah satu isi dari bingkisan seserahan yang dibawa oleh calon pengantin pria untuk calon pengantin perempuan pada saat acara pernikahan.
Kue Bhoi sendiri biasanya diperoleh di pasar-pasar tradisional ataupun dipesan langsung pada pembuatnya. Proses pembuatan kue Bhoi ini pun tergolong sedikit rumit. Pasalnya, tidak semua orang bisa membuat kuliner ini dan dibutuhkan kesabaran serta keuletan.

Kue Bhoi adalah penganan khas Aceh Besar yang dikenal luas oleh masyarakat Aceh. Bentuk kue ini sangat bervariasi, seperti : bentuk ikan, bintang, bunga, dan lain-lain. Kue Bhoi ini dapat menjadikan salah satu buah tangan ketika akan berkunjung ke sanak saudara atau tetangga yang mengadakan hajatan atau pesta, seperti sunatan dan kelahiran. 

Kue Bhoi ini mempunyai harga yang sangat relatif murah, satu kemasan berkisar dengan harga Rp. 5.000,- ,10.000,- bahkan ada yang ratusan ribu.

Kue Bhoi juga dijadikan sebagai salah satu isi dari bingkisan seserahan yang dibawa oleh calon pengantin pria untuk calon pengantin perempuan pada saat acara pernikahan.

Kue Bhoi sendiri biasanya diperoleh di pasar-pasar tradisional ataupun dipesan langsung pada pembuatnya. Proses pembuatan kue Bhoi ini pun tergolong sedikit rumit. Pasalnya, tidak semua orang bisa membuat kuliner ini dan dibutuhkan kesabaran serta keuletan.

(Source: muhammadismi.wordpress.com)

Bohromrom atau dikenal juga dengan kue boh duek beudeh, kue ini terbuat dari tepung ketan yang dibalut dengan parutan kelapa. Cara membuatnya sangat mudah. Campurkan tepung ketan, garam dan air panas. Aduk hingga rata. Tuang air dingin, aduk hingga adonan kalis. Ambil satu sendok teh adonan isi dengan bahan isian yakni gula jawa. Bulatkan dan panaskan air bersama daun pandan hingga mendidih. Masukkan adonan, angkat, gulingkan diatas kelapa parut lalu sajikan.

Bohromrom atau dikenal juga dengan kue boh duek beudeh, kue ini terbuat dari tepung ketan yang dibalut dengan parutan kelapa. Cara membuatnya sangat mudah. Campurkan tepung ketan, garam dan air panas. Aduk hingga rata. Tuang air dingin, aduk hingga adonan kalis. Ambil satu sendok teh adonan isi dengan bahan isian yakni gula jawa. Bulatkan dan panaskan air bersama daun pandan hingga mendidih. Masukkan adonan, angkat, gulingkan diatas kelapa parut lalu sajikan.

(Source: sna14aceh.com)


Meuseukat ini merupakan salah satu kue tradisional dari aceh atau semacam dodol nanas khas aceh. Meuseukat terbuat dari tepung terigu dan campuran buah nanas, paduan yang unik dengan cita rasa yang khas. Meuseukat sangat jarang ditemukan dipasar-pasar tradisional dan terkadang harus dipesan terlebih dahulu.
Jika sebelumnya meuseukat sering dibawa pada acara perkawinan aceh, kini meuseukat dapat juga dijadikan oleh-oleh jika berkunjung ke aceh.

Meuseukat ini merupakan salah satu kue tradisional dari aceh atau semacam dodol nanas khas aceh. Meuseukat terbuat dari tepung terigu dan campuran buah nanas, paduan yang unik dengan cita rasa yang khas. Meuseukat sangat jarang ditemukan dipasar-pasar tradisional dan terkadang harus dipesan terlebih dahulu.

Jika sebelumnya meuseukat sering dibawa pada acara perkawinan aceh, kini meuseukat dapat juga dijadikan oleh-oleh jika berkunjung ke aceh.

(Source: sna14aceh.com)

Berbagai jenis kue tradisional Aceh kini mulai “menghilang” di pasaran setelah gempa dan tsunami menerjang daerah berjuluk Serambi Mekkah itu. Kue-kue khas Aceh itu kini hanya bisa ditemukan saat momen-momen tertentu maupun di tempat tertentu. Kue khas Aceh itu seperti dodol, meuseukat, halua bungong jaroe maupun keukarah. “Kita sudah jarang melihat kue tradisional setelah tsunami melanda daerah ini,” kata Hafsah, seorang pembuat kue khas Aceh kepada PinbisMedia, beberapa waktu lalu. Menurut dia, menghilangnya kue tradisional di pasaran karena para pengrajin dan pedagang yang sebagian besar berdomisili di wilayah-wilayah pesisir pantai, seperti Aceh Besar, Meulaboh, Pidie dan Bireuen, ikut menjadi korban keganasan tsunami Aceh. Imbas bencana dan tsunami 26 Desember 2004 silamikut menghilangkan nyawa perempuan Aceh, khususnya usia lanjut, yang sehari-harinya berprofesi sebagai pembuat kue tradisional Aceh. Begitupun, pada sejumlah perayaan pesta perkawinan, aneka jenis kue khas tersebut bisa ditemukan, meski terbatas pada jenis dan jumlah. Kreativitas pembuat kue khas ikut tergali disebabkan kompetisi dengan dominasi kue-kue kering sebagai hantaran pada pesta perkawinan. “Seperti keukarah ini, membuatnya saja cukup sulit karena dibutuhkan ketelitian dan kesabaran khusus untuk menyelesaikannya,” ungkap Hafsah lagi. Keukarah adalah penganan terbuat dari campuran tempung dan santan berbentuk lembing berukuran satu telapak tangan orang dewasa. Rumitnya proses pembuatan menyebabkan keukarah sulit ditemukan di etalase toko kue, kecuali pada waktu-waktu tertentu, semisal Lebaran. “Begitupun, jenis kue ini hanya bisa dijumpai di pasar tradisional. Sedangkan di supermarket atau toko kue biasa, sulit dijumpai meski Lebaran tiba,” kata Ardi, seorang pemilik toko kue kepada Pinbis. Kata dia, sebelum tsunami menyambangi Aceh empat tahun silam, penjualan kue keukarah, bhoi maupun beberapa jenis kue Aceh lainnya, laris-manis, karena umumnya pedagang yang juga merangkap sebagai pembuat kue menitipkannya di toko kue miliknya sendiri setiap sebulan atau dua bulan sekali. “Kalau dulu memang ada pembuat kue khusus yang menitipkannya kemari, sedang saat ini kita caripun sulit,” ujar lelaki berkulit putih itu. Dulu, harga jual per satu buah keukarah berkisar Rp300 hingga Rp500. Saat ini Rp1.000 per buah.

Berbagai jenis kue tradisional Aceh kini mulai “menghilang” di pasaran setelah gempa dan tsunami menerjang daerah berjuluk Serambi Mekkah itu. Kue-kue khas Aceh itu kini hanya bisa ditemukan saat momen-momen tertentu maupun di tempat tertentu. Kue khas Aceh itu seperti dodol, meuseukat, halua bungong jaroe maupun keukarah

“Kita sudah jarang melihat kue tradisional setelah tsunami melanda daerah ini,” kata Hafsah, seorang pembuat kue khas Aceh kepada PinbisMedia, beberapa waktu lalu. 

Menurut dia, menghilangnya kue tradisional di pasaran karena para pengrajin dan pedagang yang sebagian besar berdomisili di wilayah-wilayah pesisir pantai, seperti Aceh Besar, Meulaboh, Pidie dan Bireuen, ikut menjadi korban keganasan tsunami Aceh. 

Imbas bencana dan tsunami 26 Desember 2004 silamikut menghilangkan nyawa perempuan Aceh, khususnya usia lanjut, yang sehari-harinya berprofesi sebagai pembuat kue tradisional Aceh. 

Begitupun, pada sejumlah perayaan pesta perkawinan, aneka jenis kue khas tersebut bisa ditemukan, meski terbatas pada jenis dan jumlah. Kreativitas pembuat kue khas ikut tergali disebabkan kompetisi dengan dominasi kue-kue kering sebagai hantaran pada pesta perkawinan. 

“Seperti keukarah ini, membuatnya saja cukup sulit karena dibutuhkan ketelitian dan kesabaran khusus untuk menyelesaikannya,” ungkap Hafsah lagi. Keukarah adalah penganan terbuat dari campuran tempung dan santan berbentuk lembing berukuran satu telapak tangan orang dewasa. 

Rumitnya proses pembuatan menyebabkan keukarah sulit ditemukan di etalase toko kue, kecuali pada waktu-waktu tertentu, semisal Lebaran. 

“Begitupun, jenis kue ini hanya bisa dijumpai di pasar tradisional. Sedangkan di supermarket atau toko kue biasa, sulit dijumpai meski Lebaran tiba,” kata Ardi, seorang pemilik toko kue kepada Pinbis. 

Kata dia, sebelum tsunami menyambangi Aceh empat tahun silam, penjualan kue keukarah, bhoi maupun beberapa jenis kue Aceh lainnya, laris-manis, karena umumnya pedagang yang juga merangkap sebagai pembuat kue menitipkannya di toko kue miliknya sendiri setiap sebulan atau dua bulan sekali. 

“Kalau dulu memang ada pembuat kue khusus yang menitipkannya kemari, sedang saat ini kita caripun sulit,” ujar lelaki berkulit putih itu. Dulu, harga jual per satu buah keukarah berkisar Rp300 hingga Rp500. Saat ini Rp1.000 per buah.

(Source: pinbis.com)